
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Kalimantan Selatan
Kebun jagung seluas enam hektare di Kelurahan Sungai Ulin, Banjarbaru, memasuki masa panen sebagai bagian dari dukungan program ketahanan pangan. Setiap hektare menghasilkan 10 hingga 12 ton jagung pipil.
Panen dilakukan menggunakan mesin combine untuk mempercepat proses, kemudian hasilnya dikeringkan hingga kadar air sesuai standar sebelum didistribusikan ke Badan Urusan Logistik (Bulog).
Kapolres Banjarbaru, AKBP Pius Sepuluh Febry Aceng Loda, menyebut stabilitas harga menjadi poin krusial dalam panen kali ini. Sejak intervensi pemerintah melalui Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan, harga jagung di tingkat petani mencapai angka tertinggi yang pernah dirasakan.

"Menurut para petani, sejak diintervensi pemerintah melalui Polda Kalsel harga jagung paling tinggi yang pernah mereka rasakan," jelas Pius Febry, Senin, 2 Maret 2026.
Petani setempat, Nurkhalim, mengatakan intervensi pemerintah dan aparat penegak hukum membuat tidak ada lagi permainan harga oleh tengkulak.
"Alhamdulillah, Bulog telah menginformasikan harga jagung kering kepada petani. Kami sangat terbantu karena tidak lagi dipermainkan tengkulak. Apalagi ada pengawasan ketat dari kepolisian jadi tidak ada perantara-perantara lagi," ungkap Nurkhalim.
Berdasarkan standar yang disepakati bersama Bulog, jagung dengan kadar air di atas 18 persen dihargai Rp4.000–Rp4.500 per kilogram, sedangkan jagung kering dengan kadar air 13–14 persen mencapai Rp6.400 per kilogram, sehingga petani tetap memperoleh keuntungan yang layak.
Editor: Redaksi TVRINews
