
Penulis: Ama Boro Huko
TVRINews, Flores Timur
Masyarakat korban bencana gempa bumi di Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat ini masih harus berjuang di tengah keterbatasan. Minimnya bantuan yang tersedia memaksa warga terdampak untuk mengungsi secara mandiri di lokasi-lokasi seadanya.
Camat Solor Timur, Moh Natsir Hasan, menyampaikan bahwa terdapat empat desa yang terdampak cukup parah. Wilayah tersebut meliputi Desa Moton Wutun, Desa Watobuku, Desa Labelen, dan Desa Watohari, khususnya di wilayah Dusun Kiwaebang.
Keterbatasan sarana pengungsian membuat warga terpaksa tidur di area terbuka tanpa perlindungan yang memadai.
"Sampai saat ini masyarakat masih mengungsi mandiri dengan membuka tempat tidur di tempat aman dan di jalan raya, namun Jumat malam, kebetulan hujan sehingga masyarakat kesulitan untuk mencari tempat teduh. Mereka sangat membutuhkan tenda, tikar dan kasur," ujar Natsir pada Sabtu, 11 April 2026.
Meskipun pihak BPBD Kabupaten Flores Timur telah mengintervensi bantuan berupa 50 buah kasur lipat, 50 buah tikar kanta, dan 10 buah terpal ukuran sedang serta kecil, jumlah tersebut dinilai masih sangat jauh dari kebutuhan riil di lapangan.
"Bantuan sangat jauh dari kurang, saat ini saya didesak masyarakat untuk mendatangkan tenda, kasur atau tikar. Hanya kami juga kesulitan karena di Kecamatan tidak ada anggaran," jelas Camat Solor Timur.
Selain krisis tempat berlindung, warga juga mulai mengkhawatirkan ketersediaan logistik. Diketahui hingga saat ini belum ada bantuan sembako yang tersalurkan sejak awal terjadinya gempa.
Kondisi ekonomi warga turut lumpuh karena sebagian besar masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan belum berani melaut akibat trauma gempa susulan. Hingga Sabtu, 11 April 2026, tercatat setidaknya telah terjadi empat kali gempa susulan yang membuat warga masih merasa panik dan memilih bertahan di pengungsian mandiri.
Editor: Redaksi TVRINews
