Penulis: Obi Tani
TVRINews, Ende
Kerasnya batu tidak sebanding dengan kerasnya hidup, mungkin itu perumpamaan bagi warga Desa Tomberabu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur yang menjalani pekerjaannya dengan setia sebagai pemecah batu demi menghidupi keluarga,serta membiayai pendidikan anak-anaknya.
Dengan peralatan sederhana seperti linggis dan palu besi, warga pemecah batu setiap harinya mengumpulkan batu-batu disekitar jalanan yang runtuh akibat tanah longsor yg sering terjadi ketika musim hujan tertentu.
Terlihat jelas dari rawut wajah mereka, bahwa pekerjaan apapun yang penting iklas menjalaninya tentu akan mendatangkan berkah untuk keluarga.
Butuh waktu beberapa hari bagi mereka untuk mengumpulkan batu ,memecahkan batu-batu yang sudah dikumpulkan,kemudian dijual dengan harga tujuh ratus hingga sembilan ratus satu truck.
Jika permintaan konsumen hanya batu yang tidak dipecahkan menjadi kerikil,maka harganya berkisar 400 ribu satu truck.
Disepanjang jalan negara menuju ke Desa Tomberabu memang dikenal bebatuannya. Batu yang terdapat di area tersebut kerap runtuh akibat tanah longsor sehingga pada kondisi seperti inilah jasa pemecah batu akan sangat berarti.
Mereka sendiri yang tidak perlu repot mencari batu. Seperti yang dialami Bapak Bertolomeus Sato yang bekerja keras untuk memenuhi harapan keluarga, kerasnya batu pun terlewatkan. Sepertinya harapan tak pernah ingkar meski sudah lama setia sebagai pemecah batu.
"Bekerja sebagai pemecah batu adalah sebuah anugerah,harapan bagi keluarga,harapan bagi pendidikan anak-anak kedepan. Penghasilan yang tentunya tidak bisa memenuhi semua kebutuhan,dan tidak menentu kapan akan dibeli tidak membuat saya pantang menyerah. Terus semangat untuk menjual dengan harga yang ada, saya bersyukur bisa kasih sekolah anak dengan berjualan batu kerikil " ungkap Bapak Bertolomeus Sato.
"Menjadikan batu sebagai sumber kehidupan adalah jalan bagi warga Desa Tomberabu. Tidak menyurutkan semangat mereka ,jika belum ada pembeli yang melirik untuk memesan hasil batu kerikil mereka"
Hal serupa di lakukan oleh seorang ibu disamping gubuk kecil ia menjalani pekerjaan ini kurang lebih 20-an tahun tersenyum merekah, dan begitu bersemangat mengumpulkan batu .
Kurang lebih 20-an tahun, Ibu Agnesia begitu menekuni dan bekerja dengan bahagia sebagai seorang tukang batu. pekerjaan yang sangat berat sebagai tukang pemecah batu. Dikerjakan dengan semangat untuk pendidikan anak-anak tercinta.
" Saya jadi pemecah batu sudah lama, hasil jualan dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah anak. Anak saya sudah sarjana, uang hasil jualan batu dan hasil tani saya pakai untuk biayai sekolah mereka. Terkadang saya tidak dapat batu ,tapi saya tidak malu untuk meminta tolong kepada tetangga yang mengumpulkan batu lebih ,agar bisa dibagian dengan saya juga. Saya bersumpah, tetangga disini selalu mempercayakan saya dan menolong saya "Cerita dari Ibu Agnesia.
Sebagian dari kita selama ini, tentu berpikir bahwa pekerjaan berat dan kasar identik dilakukan oleh kaum lelaki. Sama halnya dengan profesi menjadi tukang pemecah batu, yang tidak lazim dilakoni oleh kaum wanita. Namun, ada sebagan ibu-ibu yang tinggal di Desa Tomberabu , Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, yang menyambung hidup dengan bekerja sebagai tukang pemecah batu.
Pekerjaan berat ini rela mereka lakoni karena tuntutan hidup dan kebutuhan keluarga. bergelut dengan terik matahari tidak menyurutkan semangat mereka. Tidak lupa mengenakan topi, pakaian lengan panjang untuk menahan teriknya matahari,mereka sekuat tenaga memukul sedikit demi sedikit batu-batu tersebut.
Editor: Rina Hapsari
