
Dokumentasi 100% D.I Aendeti 5,81 Ha Desa Kotagana, Kec. Mauponggo, Kab. Nagekeo
Penulis: Thomy Mirulewan
TVRINews, Kupang
Pelaksanaan kegiatan rehabilitasi tahap dua terhadap 80 Daerah Irigasi (DI) di Nusa Tenggara Timur melalui dana Inpres Tahap II senilai Rp 102 miliar telah mencapai progres 85 persen hingga akhir Desember 2025. Pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II Kupang memastikan pengerjaan ini tidak akan mengganggu aktivitas tanam para petani di setiap lokasi.
Saat ini, BBWS NT II terus memantau pelaksanaan di lapangan dengan tambahan waktu tahap satu selama 40 hari kalender agar seluruh kegiatan rekap Daerah Irigasi selesai dikerjakan secara menyeluruh.
“Kami berharap kegiatan ini jangan sampai sampai pada tahap dua pemberian kesempatan kepada penyedia untuk menyelesaikannya karena yang masih minus seperti di Kabupaten Belu dapat diselesaikan dalam waktu yang tidak lama,” ujar Kepala BBWS NT II Kupang, Parlinggiman B. Simanungkalit, di Kantor Balai, Senin, 19 Januari 2026.
Parlinggiman menjelaskan bahwa penanganan irigasi ini tersebar di 80 titik yang mencakup 17 kabupaten di NTT. Proyek ini dilaksanakan berdasarkan Inpres Nomor 2 Tahun 2025 dengan total tiga paket fisik dan tiga paket supervisi.
Paket 1 membiayai 32 lokasi dengan nilai Rp 40 miliar, sedangkan Paket 2 senilai Rp 102 miliar membiayai 34 lokasi yang dikerjakan oleh PT Adhi Karya. Adapun Paket 3 senilai Rp 18 miliar membiayai 16 lokasi yang dikerjakan oleh PT Waskita Karya. Seluruh paket tersebut saat ini rata-rata telah mencapai progres fisik 85 persen.
Sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN), pelaksanaan proyek ini dikawal langsung oleh Kejaksaan Agung RI melalui tim PPS Kejaksaan Tinggi NTT. Parlinggiman mengakui adanya tantangan berat karena waktu pelaksanaan yang singkat dan kendala mobilisasi tenaga kerja saat libur Natal dan Tahun Baru lalu.
“Melihat kontrak pekerjaannya yang baru dimulai pada triwulan 4 tahun 2025, mengingat mekanisme usulan dan penganggarannya yang membutuhkan waktu cukup panjang. Namun demikian kami optimis bahwa pelaksanaan pekerjaan ini mesti bisa diselesaikan walaupun kita akui bahwa tidak mudah tantangan yang akan dihadapi, terlebih penyelesaiannya selama masa musim penghujan,” jelasnya.
Menanggapi kekhawatiran petani mengenai potensi gagal tanam akibat saluran yang masih dalam pengerjaan, BBWS NT II menjamin pasokan air ke lahan pertanian akan tetap terpenuhi.
“Untuk beberapa lokasi yang sementara ini dikerjakan, kita tau bahwa pada lokasi-lokasi dimaksud belum sepenuhnya ada aktivitas masyarakat yang mengolah lahan untuk tanam, namun demikian jika dalam waktu dekat masyarakat membutuhkan layanan air untuk olah lahan dimusim tanam saat ini, selain dengan memaksimalkan curah hujan atau air hujan, akan kami upayakan untuk dipersiapkan secara maksimal dengan sistem pompa dari bangunan pengambilan atau sumber air irigasi langsung dari daerah yang memiliki potensi air irigasi,” tegas Parlinggiman.

Persiapan pengairan & olah lahan utk MT 1 pada DI. Oehani 68 Ha, Desa Kolabe, Kecamatan Amfoang Utara.
Pihak Balai juga telah melakukan monitoring langsung ke DI Oehani di Kecamatan Amfoang Utara pada 15 Januari lalu. Dari hasil pantauan tersebut, dipastikan alokasi air untuk kebutuhan olah lahan hingga masa panen nantinya akan terairi dengan baik seiring dengan penyelesaian sisa pengerjaan konstruksi.
Editor: Redaktur TVRINews
