
Darurat BBM di Lembata Berlangsung Sepekan, Faktor Kompleks Jadi Pemicu
Penulis: Ama Boro Huko
TVRINews, Lembata
Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami darurat Bahan Bakar Minyak (BBM) hampir sepekan terakhir. Kelangkaan BBM ini dipicu oleh sejumlah faktor kompleks yang berdampak langsung pada aktivitas masyarakat dan perputaran ekonomi daerah.

Berdasarkan informasi yang didapatkan TVRINews.com, hingga Minggu, 25 Januari 2026, krisis BBM di Lembata diduga dipengaruhi oleh keterbatasan kuota distribusi, kondisi cuaca, kendala transportasi, hingga persoalan transparansi penjualan di SPBU. Selain itu, jam operasional SPBU, ulah oknum pengecer, serta tidak tersedianya BBM non-subsidi turut memperparah situasi di lapangan.
Akibat kelangkaan tersebut, harga BBM eceran melonjak tajam. BBM dijual dengan harga bervariasi, berkisar Rp40.000 hingga Rp50.000 per botol ukuran 1,5 liter. Kenaikan harga ini telah berlangsung sejak Kamis, 22 Januari hingga Minggu, 25 Januari 2026.

Pemerintah Kabupaten Lembata saat ini tengah membangun koordinasi dengan Pertamina pusat dan Pertamina Patra Niaga untuk mencari solusi atas krisis BBM tersebut. Tidak menutup kemungkinan, pimpinan Pertamina akan turun langsung ke lapangan guna melakukan inspeksi dan memastikan kondisi riil distribusi BBM di Lembata.
Darurat BBM ini berdampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat, termasuk aktivitas transportasi dan operasional pelaku usaha, yang kian tertekan akibat tingginya harga BBM dan terbatasnya pasokan di pasaran.
Editor: Redaksi TVRINews
