TVRINews, Yogyakarta
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Tahun 2026 menggelar pelatihan membatik adaptif dan inklusif bagi pelajar penyandang disabilitas di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kegiatan tersebut merupakan upaya memperluas keterampilan sekaligus membuka peluang kerja yang masih terbatas bagi penyandang disabilitas.
Kegiatan yang berlangsung di Najihah Batik, Kecamatan Cluring, ini diikuti oleh 25 peserta dari tiga Sekolah Luar Biasa (SLB) di wilayah Banyuwangi. Program tersebut merupakan kelanjutan dari inisiatif KKN tahun sebelumnya yang bertujuan memperluas akses pelatihan keterampilan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi penyandang disabilitas.
Dalam pelatihan ini, peserta dikenalkan pada teknik batik ciprat dengan corak abstrak. Teknik tersebut dipilih karena relatif mudah dipelajari serta memberikan kebebasan bagi peserta untuk mengekspresikan kreativitas tanpa batasan pola tertentu.
Kegiatan mendapat sambutan positif dari para peserta maupun tenaga pendidik. Selain memberikan keterampilan vokasional, pelatihan ini juga dinilai mampu menanamkan nilai-nilai karakter, seperti rasa percaya diri, kemandirian, dan kemampuan fokus sebagai bekal memasuki dunia usaha maupun dunia kerja.
Peserta KKN-PPM UGM, Febriano Agung Nugroho, mengatakan program ini lahir sebagai jawaban atas masih terbatasnya kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.
"Program ini merupakan respons terhadap terbatasnya peluang kerja bagi teman-teman penyandang disabilitas. Kami melihat Desa Tampo telah ditetapkan sebagai desa membatik tematik di Kabupaten Banyuwangi. Karena itu, kami ingin menghadirkan nilai tambah agar desa ini dapat berkembang menjadi pusat pelatihan membatik bagi penyandang disabilitas. Harapannya, Desa Tampo tidak hanya menjadi destinasi wisata membatik, tetapi juga menjadi ruang berkelanjutan bagi teman-teman disabilitas untuk berkarya dan mengembangkan potensinya melalui membatik," kata Febriano, dikutip Kamis, 6 Agustus 2026.
Kepala SLB Tamanagung, Pipit Suparlin, mengapresiasi kolaborasi yang dibangun mahasiswa KKN UGM bersama sekolah dan masyarakat.
"Kami sangat mengapresiasi mahasiswa KKN UGM yang telah memberikan ruang belajar bagi siswa-siswi kami. Membatik bukan hanya sekadar keterampilan vokasional, tetapi juga menjadi media pembentukan karakter, mulai dari menumbuhkan rasa percaya diri, melatih kemandirian, hingga meningkatkan konsentrasi siswa. Kami berharap kolaborasi antara sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat ini dapat semakin memperkuat pendidikan inklusif serta membuka peluang bagi anak-anak kami untuk berkembang di dunia kerja maupun dunia usaha," ungkap Pipit.
Sebagai mitra pelaksanaan program, Najihah Batik telah lama memberikan pelatihan sekaligus mempekerjakan penyandang disabilitas secara profesional. Produk batik hasil karya mereka bahkan telah diminati masyarakat dan memiliki nilai jual di pasaran.
Ketua TP-PKK Desa Tampo, Umi Najikhah Fikriyati, menjelaskan bahwa para penyandang disabilitas yang menjalani praktik kerja di Najihah Batik memperoleh upah sesuai kualitas hasil karyanya.
"Beberapa siswa yang menjalani praktik kerja di sini kami bayar secara profesional berdasarkan kualitas produknya. Bahkan, ada karya yang nilainya melebihi hasil pekerja lainnya. Hingga saat ini sudah ada empat produk yang dinilai layak jual, bahkan beberapa sudah dipesan sebelum proses pengerjaan selesai. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat bangga menggunakan produk hasil karya penyandang disabilitas. Kami tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga membantu mempromosikan produk mereka agar memiliki nilai ekonomi," jelas Umi Najikhah.
Selain pelatihan membatik, mahasiswa KKN-PPM UGM juga menyusun dan menyerahkan e-modul sebagai panduan bagi pendamping penyandang disabilitas, baik di lingkungan UMKM batik maupun sekolah. Modul tersebut diharapkan dapat menjadi acuan dalam pelaksanaan pelatihan membatik secara mandiri dan berkelanjutan.
Melalui program ini, mahasiswa KKN-PPM UGM berharap Desa Tampo dapat berkembang menjadi pusat pelatihan membatik bagi penyandang disabilitas di Banyuwangi.
Keberadaan pusat pelatihan tersebut diharapkan tidak hanya memperluas kesempatan berkarya bagi penyandang disabilitas, tetapi juga mendukung pengembangan sektor pariwisata dan UMKM berbasis batik di daerah tersebut.









