TVRINews Yogyakarta
Musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan sejumlah lahan pertanian di Kelurahan Wukirharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, mengalami kekeringan. Akibatnya, sebagian besar lahan tidak dapat ditanami karena minimnya ketersediaan air.
Meski demikian, petani yang memiliki lahan di sekitar sumber air masih dapat bercocok tanam. Mereka memilih menanam berbagai jenis sayuran karena memiliki masa tanam yang lebih singkat serta membutuhkan air dalam jumlah yang relatif lebih sedikit dibandingkan tanaman pangan lainnya.
Carik Wukirharjo, Giyanto, mengatakan kebutuhan air bersih untuk rumah tangga warga hingga kini masih terpenuhi melalui layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sementara itu, kebutuhan air bagi sektor pertanian mengandalkan embung dan penampungan air yang ada di wilayah tersebut.
“Untuk kebutuhan masyarakat Wukirharjo, terutama kebutuhan rumah tangga, kami menggunakan air dari PDAM. Sementara untuk kebutuhan pertanian, kami memanfaatkan penampungan air atau embung yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan pertanian masyarakat,” kata Giyanto kutip Kamis, 6 Agustus 2026.
Menurut Giyanto, saat musim hujan para petani memanfaatkan lahan secara maksimal dengan menerapkan sistem tumpang sari. Pola tanam tersebut dipilih agar ketersediaan air yang melimpah pada musim penghujan dapat dimanfaatkan secara optimal sekaligus meningkatkan produktivitas lahan.
Namun, memasuki musim kemarau, pilihan komoditas menjadi lebih terbatas. Hanya tanaman sayuran yang masih dapat dibudidayakan, itu pun di lahan-lahan yang berada dekat dengan sumber air meski debitnya terus menurun akibat kemarau yang berkepanjangan.









