TVRINews, Jambi
BPBD Kabupaten Muaro Jambi telah melakukan mitigasi terhadap daerah-daerah rawan bencana banjir akibat luapan Sungai Batanghari. Berdasarkan pemetaan yang dilakukan, terdapat 72 desa yang masuk kategori rawan banjir pada musim hujan tahun 2025.
Sebagai wilayah yang dialiri Sungai Batanghari, Kabupaten Muaro Jambi termasuk dalam kawasan rawan bencana banjir akibat luapan sungai tersebut. Untuk mengantisipasi bencana musiman ini, Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi telah melakukan pemetaan wilayah rawan banjir. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, terdapat 72 desa yang berpotensi terdampak banjir luapan Sungai Batanghari.
Beberapa kecamatan dengan jumlah desa rawan banjir antara lain Kecamatan Sekernan, Maro Sebo, dan Taman Rajo, masing-masing memiliki 10 desa rawan banjir. Selain itu, Kecamatan Jambi Luar Kota terdapat 12 desa, Kumpeh Ulu 13 desa, dan Kumpeh Ilir 17 desa yang masuk dalam kategori rawan banjir.
“Mitigasi bencana yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi dampak buruk dari bencana alam. Semua kecamatan dan desa yang tercatat sebagai daerah rawan sudah mendapat surat edaran untuk meningkatkan kewaspadaan. Mereka juga diminta memetakan daerah dataran tinggi sebagai lokasi pengungsian warga apabila rumah mereka terdampak banjir,” ujar Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Muaro Jambi, Anari Hasiholan Sitorus.
Berdasarkan evaluasi BPBD Kabupaten Muaro Jambi pada tahun 2024, air Sungai Batanghari sudah mulai memasuki halaman rumah warga dengan tinggi muka air mencapai siaga tiga, yaitu 13,87 meter. Sementara pada akhir September 2025, debit air Sungai Batanghari di wilayah Muaro Jambi tercatat sekitar 9,4 meter atau masih di bawah status siaga tiga. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi luapan air Sungai Batanghari, khususnya dari daerah hulu sungai.










