TVRINews, NTT
Cabang olahraga berkuda pacu dipastikan menjadi salah satu daya tarik pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028 yang akan digelar di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Menariknya, nomor pacuan kuda tradisional tanpa pelana yang selama ini menjadi bagian dari tradisi masyarakat NTT, khususnya di Pulau Sumba, resmi masuk sebagai nomor pertandingan dalam ajang olahraga nasional tersebut.
Rencananya, pertandingan berkuda pacu pada PON 2028 akan berlangsung di Lapangan Pacuan Gelora Pada Ewata, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat. Penetapan venue ini sekaligus menjadi pengakuan terhadap tradisi pacuan kuda yang telah lama hidup dan berkembang di masyarakat Sumba.
Sekretaris Jenderal DPP Federasi Nasional Pordasi Pacu, Prasetyo Oedjiantono, mengatakan federasi telah menggelar rapat pimpinan secara daring yang diikuti pengurus pusat, direktur pacu, serta ketua pengurus provinsi dan daerah.
Rapat tersebut menjadi langkah awal konsolidasi organisasi sekaligus memulai persiapan program Road to PON 2028.
“Kepercayaan pemerintah melalui Komite Olahraga Nasional Indonesia kepada Federasi Nasional Pordasi Pacu harus kita jawab dengan kerja serius. Berkuda pacu harus dikelola secara profesional untuk meningkatkan prestasi atlet, kualitas kuda pacu, dan mutu penyelenggaraan lomba,” ujar Prasetyo.
Menurut dia, PON 2028 menjadi peluang besar untuk memperkuat sistem pembinaan nasional sekaligus memberi ruang bagi kuda-kuda lokal tradisional yang selama ini berkembang di berbagai daerah.
Prasetyo menjelaskan bahwa dalam Road to PON XXII 2028, federasi akan menyiapkan sekitar 20 nomor pertandingan untuk kelas kuda A hingga J. Perhatian khusus diberikan pada kelas G, H, I, dan J yang diisi oleh kuda rakyat atau kuda lokal tradisional.
Nomor-nomor tersebut akan dipertandingkan dalam kategori jarak pendek (sprint) maupun jarak jauh (stayer), sehingga seluruh kuda lokal memiliki kesempatan bersaing.
Selain menyiapkan nomor pertandingan, federasi juga akan menyelenggarakan sejumlah program peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang pacuan kuda.
Selain itu, federasi juga akan menyelenggarakan sejumlah Pelatihan dan lokakarya untuk joki, pelatih, dan stewards. Juga Sertifikasi stewards dan asisten stewards. ”Penunjukan petugas pertandingan (racing official) dari tuan rumah dibantu personel berpengalaman dari FN Pordasi Pacu. Dan simulasi dan uji coba lomba menuju PON 2028,” jelasnya.
Prasetyo menekankan bahwa kehadiran nomor kuda lokal pada PON menjadi momentum penting bagi perkembangan olahraga berkuda pacu di Indonesia.
Prasetyo menekankan, “Ini momentum penting. Kuda lokal yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat di berbagai daerah kini mendapat ruang di panggung nasional.”
Sementara itu, Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang, mengatakan masuknya pacuan kuda tanpa pelana sebagai nomor resmi pertandingan merupakan hasil perjuangan panjang dari berbagai pihak di NTT.
Menurut Umbu Rudi, sejak awal NTT ditetapkan sebagai tuan rumah PON, pihaknya telah konsisten memperjuangkan agar tradisi pacuan kuda tanpa pelana tidak hanya dipandang sebagai atraksi budaya, tetapi juga diakui sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan secara resmi.
“Kami yakinkan bahwa pacuan tanpa pelana adalah kekuatan NTT, khususnya Sumba. Ini bukan hanya tradisi, tetapi juga olahraga yang memiliki sistem pembinaan dan basis penggemar yang besar,” kata Umbu Rudi.
Ia menjelaskan bahwa proses pengajuan tersebut memerlukan argumentasi teknis, data pembinaan, serta komunikasi intensif dengan berbagai pihak, termasuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pusat dan pengurus federasi.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah Waikabubak di Kabupaten Sumba Barat ditetapkan sebagai lokasi pertandingan berkuda pacu pada PON 2028. Lapangan Pacuan Gelora Pada Ewata dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi arena pacuan kuda bertaraf nasional.
Bagi masyarakat Sumba, keputusan ini memiliki makna yang lebih luas dari sekadar penyelenggaraan olahraga. Pacuan kuda tanpa pelana telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Umbu Rudi bahkan memasang target besar bagi kontingen NTT pada ajang tersebut. Ia berharap daerahnya mampu meraih setidaknya 10 medali emas dari cabang olahraga berkuda pacu.
“Sekarang saatnya kita bersiap. Para pemilik kuda, pelatih, dan joki muda harus mulai mempersiapkan diri. PON 2028 adalah panggung besar bagi kuda-kuda lokal Sumba,” ujarnya.
Dengan waktu persiapan yang masih tersisa sekitar dua tahun, federasi bersama pengurus provinsi di berbagai daerah juga akan mulai menggelar berbagai simulasi pertandingan menuju PON 2028. Termasuk di dalamnya penyusunan standar aturan lomba yang dapat menyatukan berbagai tradisi pacuan kuda yang berkembang di Indonesia.
Bagi NTT, khususnya Kabupaten Sumba Barat, penyelenggaraan PON 2028 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan sekaligus mengangkat tradisi lokal ke tingkat nasional. Pacuan kuda tanpa pelana yang telah lama hidup di tengah masyarakat kini mendapat tempat di arena olahraga nasional.










