TVRINews, Maluku Utara
Sebanyak dua puluh ruangan poliklinik Rumah Sakit Chasan Boesoirie Ternate, Maluku Utara dalam tiga hari terakhir tidak membuka pelayanan kepada pasien lantaran para dokter mogok kerja. Aksi mogok yang dilakukan para dokter itu, mulai dilakukan sejak Maret lalu.
Hal itu dilakukan para dokter karena kesal realisasi pembayaran Tambahan Penghasilan Pegawai atau TPP yang diterima mereka tidak sesuai ketentuan. Pembayaran TPP tenaga medis golongan ASN itu menemui kendala sejak tahun 2021 hingga 2022.
Meski pemerintah Provinsi Maluku Utara berupaya melunasi tunggakan TPP para dokter, namun dilakukan tidak sesuai kesepakatan dan terlampau dari waktu penerimaanya.
Baca juga: Setelah 13 Tahun, Pemkot Ambon Berlakukan Lagi Retribusi Sampah Di Pasar Mardika
Direktur RSUD Chasan Boesoirie, Alwia Assagaf menanggapi terkait persoalan mogoknya para dokter yang berimbas tutupnya 20 poliklinik RSUD Chasan Boesoirie selama tiga hari terakhir.
"Nah setiap pembayaran itu 3 bulan dulu, nah yang ke 9 itu belum ada ketentuannya, nah tadi disampaikan akan berproses karena ini pak setda ngak ada, pak kabid keuangan tidak ada. Rencananya hari Senin akan ada rapat dengan pak setda dan kabid keuagan, dan saya ingin mengundang juga teman- teman dokter spesiailis, mari mendengarkan langsung. Kapasitas saya disini tidak bisa berbicara atas nama pemda karena pengelolaan keuangan itu kan ada di pemda sehingga saya tidak bisa menjelaskan kapan akan dibayar," jelasnya.
Direktur RSUD Chasan Boesoiri, Dokter Alwia Assagaf kepada media mengaku, bahwa Rumah Sakit Umum Daerah Chasan Boesoiri juga memiliki hutang ke pihak vendor perbekalan farmasi atau distributor obat senilai 43 miliar.
"Hal berikutnya Rumah Sakit memang terkendala pesan obat karena vendor sampai saat ini belum semua dilunasi pemda hingga mereka tidak mau membuka untuk pembelian obat, saya tidak bisa belanja obat, adapun yang membuka untuk belanja tidak sampai 100 juta saya bisa belanja mereka tidak mau lebih dari itu, sementara Rumah sakit yang besar ini yang melakukan pelayanan ini, obat jika hanya 100 juta ya paling 3-4 hari sudah habis," jelasnya.
Polemik RSUD Chasan Boesoirie itu mencuat sejak dijabat oleh menagemen lama. Bahkan Gubernur Maluku Utara telah mewanti - wanti beberapa pihak seperti Inspektorat maupun BPKP mengaudit pengelolaan keuangan RSUD hingga penyelesaian masalah rumah sakit yang berada itu namun hingga kini belum ada titik terang.
"Ini menjadi permasalahan besar disini, tetapi kita tetap optimis, dan saya berharap pemerintah segera merespon cepat bagaimana hutang obat diselesaikan, hutang TPP ini juga dilaksanakan," jelasnya.
Baca juga: Watu Mitong, Gadis Cantik Tersembunyi










