TVRINews, Lembata
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai memperkuat hilirisasi sektor peternakan melalui pengoperasian Rumah Potong Unggas (RPU) di Waikomo, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan.
Berdasarkan informasi yang diterima TVRINews.com, Senin, 10 Agustus 2026, fasilitas milik pemerintah daerah tersebut diluncurkan oleh Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq. Kehadiran RPU diharapkan menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem peternakan lokal yang lebih baik, higienis, dan memiliki nilai ekonomi.
Pengelolaan RPU Waikomo nantinya dipercayakan kepada Kelompok PSE Banneux sebagai mitra pengelola. Fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat mata rantai produksi unggas, meningkatkan kualitas pengolahan hasil ternak, serta membuka peluang usaha baru bagi peternak dan pelaku ekonomi masyarakat di Lembata.
Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq mengatakan pemanfaatan RPU merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mengoptimalkan aset daerah sekaligus mendukung program prioritas pembangunan, khususnya sektor peternakan.
Pengembangan sektor peternakan tersebut menjadi bagian dari visi “Lembata yang Maju, Lestari, dan Berdaya Saing”, melalui penguatan sektor unggulan Nelayan, Tani, dan Ternak (NTT).
Menurut Kanisius, pembangunan fasilitas RPU tidak terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi Lembata sebagai daerah kepulauan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan dalam penyediaan pakan ternak.
Namun, melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan Gereja, berbagai tantangan tersebut dapat diatasi hingga fasilitas RPU akhirnya dapat dimanfaatkan.
Bupati menegaskan, pemerintah daerah akan terus mendorong kemandirian sektor peternakan, termasuk mengembangkan industri pakan ternak lokal agar keberlanjutan produksi dapat terjamin.
“Kendala utama kita memang pakan ternak. Tetapi pemerintah sedang berupaya membangun sistem pakan ternak di Lembata. Kita harus percaya bahwa dengan semangat bersama, kerja keras, dan memulai dari langkah kecil, sesuatu yang besar dapat diwujudkan,”kata Kanisius.
Gereja Dorong Kolaborasi Pemberdayaan Ekonomi
Sementara itu, Uskup Larantuka Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengapresiasi kolaborasi antara Pemkab Lembata dan Gereja dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ia mengatakan, Keuskupan Larantuka pada 2026 mengusung tema “Pemberdayaan Ekonomi sebagai Ekspresi Iman”. Tema tersebut menempatkan penguatan ekonomi umat sebagai bagian dari perwujudan iman dalam kehidupan sehari-hari.
“Gereja dan umat tidak berjalan sendiri, tetapi berkolaborasi dengan pemerintah daerah demi kesejahteraan masyarakat. Gereja tidak membangun ekonomi umat secara eksklusif, tetapi terbuka bagi semua pihak karena kemajuan ekonomi Lembata harus dibangun bersama,”ungkap Uskup Hans Monteiro.
Menurutnya, pembangunan ekonomi daerah membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Kemajuan Lembata tidak dapat hanya mengandalkan satu bidang, tetapi perlu ditopang berbagai sektor yang berkembang secara bersama.
Dalam kegiatan tersebut, Bupati Lembata juga menyerahkan satu unit alat pertanian berupa cultivator kepada pihak Gereja. Bantuan tersebut diterima Pastor Paroki St. Maria Banneux Lewoleba sebagai bagian dari dukungan terhadap program pemberdayaan ekonomi umat.
Kegiatan peluncuran RPU turut dihadiri Romo Deken Lembata, Pastor Paroki St. Maria Banneux Lewoleba, sejumlah pimpinan perangkat daerah, Kepala Bank NTT Cabang Lewoleba, Lurah Lewoleba Barat, mitra program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta sejumlah pelaku usaha ayam lokal.
Melalui pengoperasian RPU Waikomo, Pemkab Lembata berharap sektor peternakan lokal tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga mampu berkembang menjadi sektor produktif yang menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan usaha, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.









