TVRINews, Jakarta
Festival Sinema Australia Indonesia (Festival Sinema Australia Indonesia 2026) kembali digelar dan akan menyapa penonton di 11 kota di Indonesia pada 8–23 Mei 2026. Pemerintah menyambut baik gelaran tahunan ini sebagai upaya memperkuat kolaborasi industri film antara Indonesia dan Australia.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, mengatakan FSAI menjadi ruang strategis yang mempertemukan pelaku industri dari kedua negara untuk saling mengenal sekaligus membuka peluang kerja sama.
"FSAI menjadi ruang yang mempertemukan pelaku industri untuk saling mengenal dan membuka peluang kolaborasi," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Kamis, 23 April 2026.
Menurutnya, industri film memiliki potensi ekonomi yang besar, tidak hanya dari sisi produksi dan penayangan, tetapi juga dari pengembangan sektor turunan seperti lisensi dan produk kreatif. Ia menegaskan, kolaborasi internasional dapat membuka akses lebih luas bagi karya film Indonesia untuk menembus pasar global.
"Kolaborasi membuka akses lebih luas, tidak hanya di pasar domestik tetapi juga global. Ini sejalan dengan upaya menjadikan ekonomi kreatif sebagai the new engine of growth," ucapnya.
Sementara itu, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Roderick Bruce Brazier, menyampaikan bahwa FSAI yang telah memasuki tahun ke-11 menunjukkan konsistensi hubungan kedua negara di sektor kreatif.
"FSAI telah berkembang menjadi platform kolaborasi yang mempertemukan sineas Australia dan Indonesia serta menjangkau audiens di berbagai kota," kata Roderick Bruce Brazier.
Pada tahun ini, FSAI akan hadir di 11 kota, yakni Jakarta, Manado, Semarang, Medan, Bogor, Makassar, Surabaya, Kupang, Banjarmasin, Mataram, dan Yogyakarta. Festival ini menghadirkan beragam program seperti pemutaran film, kelas master (masterclass), serta program pengembangan kapasitas bagi pelaku industri dan komunitas kreatif.
Sebanyak tujuh film utama akan ditayangkan, terdiri dari lima film Australia dan dua film Indonesia, yakni Rangga & Cinta dan JUMBO. Selain itu, FSAI juga menampilkan film pendek karya alumni program Australia Awards sebagai bagian dari penguatan talenta kreatif.
Kementerian Ekonomi Kreatif memandang FSAI sebagai langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi internasional, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta memperluas distribusi karya film Indonesia ke pasar global.
Melalui penyelenggaraan tahun ini, FSAI diharapkan mampu mendorong lahirnya proyek kolaboratif konkret antara pelaku industri Indonesia dan Australia, sekaligus meningkatkan daya saing dan keberlanjutan ekosistem ekonomi kreatif nasional.










