TVRINews, Yogyakarta
Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, geliat para pemelihara sapi putih berciri khas bergelambir di Dusun Brengosan, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, semakin meningkat. Kelompok Ternak Andini Mulyo yang menaungi 42 peternak mencatat tingginya minat pembeli, terutama untuk sapi berukuran jumbo.
Salah satu peternak, Dedi Hermawan, menjadi sorotan setelah berhasil menjual dua ekor sapi jumbo dengan harga fantastis. Sapi berbobot 763 kilogram laku seharga Rp55 juta, sementara sapi seberat 870 kilogram terjual Rp45 juta. Kedua sapi tersebut dibeli pengurus masjid dan lembaga pendidikan di kawasan Wedomartani untuk kebutuhan kurban.
Dedi menjelaskan, kebutuhan pakan sapi putih tidak jauh berbeda dengan jenis sapi lainnya. Selain pakan hijauan, ia memberikan pakan tambahan berupa komboran yang terdiri atas dedak, polar, dan sumber protein tambahan. Meski demikian, ia menekankan pentingnya ketepatan waktu pemberian pakan serta penjemuran sapi pada pagi hingga menjelang siang hari untuk mendukung proses penggemukan.
Tidak hanya untuk kurban, sapi jumbo miliknya juga sering dimanfaatkan untuk wisata gerobak sapi lengkap dengan sais pedati.
Sapi yang diternakkan mayoritas merupakan jenis Peranakan Ongole (PO), salah satu sapi lokal yang banyak berkembang di Indonesia. Namun, perawatannya tidak selalu mudah, terutama untuk sapi betina.
“Untuk sapi betina, kalau terlalu gemuk biasanya sulit bunting. Jadi kondisi tubuh yang sedikit lebih ramping justru lebih baik, selama tempat pemeliharaannya bagus,” ujar Dedi Hermawan, Ketua Kelompok Ternak Andini Mulyo, Rabu, 6 Mei 2026.
Keberadaan sapi putih PO kini semakin berkembang di berbagai wilayah Nusantara. Bagi peternak di Brengosan, sapi jenis ini tetap menjadi pilihan utama, baik sebagai ternak produktif maupun instrumen investasi karena harga jualnya yang relatif stabil.
Dalam pemasaran, para peternak tidak hanya mengandalkan pasar hewan, tetapi juga memanfaatkan media sosial dan jaringan paguyuban sapi putih. Meski persaingan dengan sapi impor seperti metal dan limosin semakin ketat, sapi putih lokal tetap mampu bersaing dan menjadi komoditas unggulan.










