
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Sikka
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah kejadian bencana dalam periode pemantauan Minggu, 22 Maret 2026 pukul 7.00 WIB hingga Senin, 23 Maret 2026 pukul 7.00 WIB.
Bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat pasca Idulfitri.
Banjir melanda Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, sejak Jumat, 20 Maret 2026 pukul 15.00 WITA. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, khususnya di Kecamatan Tanawawo, menyebabkan Sungai Lowo Regi meluap dan berdampak pada infrastruktur vital.
Kerusakan signifikan terjadi di crossway Kali Lowo Regi, Desa Masebewa, yang mengakibatkan akses jalan antar desa terputus. Kondisi ini menghambat mobilitas warga serta distribusi logistik di wilayah terdampak.
Sebanyak 10 desa terdampak dengan total 2.922 kepala keluarga atau 12.981 jiwa. Warga bahkan terpaksa menyeberangi arus banjir dengan berjalan kaki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, yang berisiko terhadap keselamatan.
Selain itu, sekitar 2.922 unit rumah terdampak, dengan rincian satu unit rusak berat dan tiga unit rusak ringan.
Dampak juga meluas ke sektor pertanian dan infrastruktur, termasuk 15 hektare lahan persawahan terdampak, kerusakan bangunan penangkap air, putusnya pipa distribusi air bersih, serta empat titik akses jalan berlubang.
BPBD Kabupaten Sikka bersama instansi terkait telah melakukan asesmen dan pendataan di lapangan untuk mempercepat penanganan. Kebutuhan mendesak saat ini meliputi bantuan logistik, air bersih, terpal, perbaikan darurat akses jalan, hingga perlengkapan dapur.
Selain banjir, bencana tanah longsor juga terjadi di wilayah yang sama dan hingga Minggu, 22 Maret 2026 masih dalam penanganan. Longsor menutup akses jalan penghubung Desa Poma dan Desa Napugera di Kecamatan Tanawawo.
Peristiwa longsor tersebut terjadi lebih awal, yakni pada Jumat, 6 Maret 2026 pukul 3.00 WITA, akibat hujan dengan intensitas tinggi dalam durasi panjang. Material longsor menimbun badan jalan di dua titik dan mengganggu aktivitas warga.
Sebanyak 11 kepala keluarga terdampak, dengan 11 unit rumah dalam kondisi terancam. Penanganan terus dilakukan oleh BPBD bersama TNI/Polri, Dinas PUPR, relawan, dan masyarakat setempat melalui pembersihan material serta pembukaan akses jalan.
Seluruh kejadian ini berlangsung dalam periode Status Siaga Darurat Bencana di Nusa Tenggara Timur yang berlaku hingga 8 Juni 2026.
BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, khususnya di wilayah dengan curah hujan tinggi.
Masyarakat diminta memantau informasi cuaca, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera mengungsi ke tempat aman apabila terjadi peningkatan debit air atau tanda-tanda longsor.
Editor: Redaktur TVRINews
