TVRINews – Ramallah Tepi Barat
Hampir 2.000 Warga Palestina, Termasuk Ribuan yang Ditahan Tanpa Tuduhan dari Gaza, Dibebaskan dari Penjara Israel
Ratusan warga Palestina tumpah ruah di depan sebuah teater di Ramallah, Tepi Barat yang diduduki, menyambut kedatangan bus yang membawa para tahanan dan narapidana yang dibebaskan Israel.
Pemandangan kegembiraan tak terbendung pecah seketika kerumunan melihat wajah-wajah yang dinanti melalui jendela bus. Mereka meneriakkan nama-nama orang terkasih yang telah terpisah selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.
Para tahanan tampak kurus, dengan tulang pipi menonjol dan beberapa menunjukkan bekas luka yang baru sembuh. Mereka dengan mudah diangkat dan dipanggul di pundak kerabatnya. Salah seorang yang diselimuti keffiyeh Palestina terlihat mencium kaki ibunya sebelum diangkat kembali, sambil mengacungkan jari membentuk simbol "V" untuk kemenangan.
Pembebasan ini terjadi setelah pertukaran yang melihat semua sandera Israel yang masih hidup dikembalikan dari Gaza. Peristiwa ini menandai langkah awal dalam gencatan senjata yang diharapkan dapat mengakhiri konflik di wilayah tersebut.
Bebas Setelah Hukuman Seumur Hidup
Pada Senin (13/10), total 88 warga Palestina dibebaskan dan dikirim ke Tepi Barat. Sementara itu, hampir 2.000 lainnya – termasuk sekitar 1.700 yang ditangkap di Gaza selama perang dan ditahan tanpa dakwaan dikirim kembali ke Gaza. Sebagian kecil dari mereka dikabarkan melanjutkan perjalanan ke negara tetangga.
Bagi keluarga di Ramallah, implikasi politik dari pembebasan ini jauh dari pikiran; fokus mereka adalah merayakan hari yang mereka kira tidak akan pernah datang. Sebagian besar pria yang kembali ke Tepi Barat menjalani hukuman seumur hidup, banyak di antaranya dituduh melakukan kejahatan kekerasan, termasuk pembunuhan dan serangan mematikan terhadap warga Israel.
"Dia sudah dipenjara selama 24 tahun," kata seorang kerabat Saber Masalma, anggota faksi utama Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Fatah. Masalma ditangkap pada tahun 2002 dan dijatuhi hukuman seumur hidup atas tuduhan konspirasi pembunuhan dan pemasangan bahan peledak.
Kerabatnya itu dengan bangga menunjukkan Masalma kepada keponakannya melalui panggilan video. Ia menceritakan bahwa kunjungan keluarga dibatasi Israel setelah serangan 7 Oktober. "Dia terlihat seperti mayat. Tapi kami akan menghidupkannya kembali," ujarnya sambil tertawa.
Mereka bergegas menuju restoran, dengan hati-hati agar Masalma tidak makan terlalu banyak karena perutnya tidak terbiasa dengan makanan yang layak selama di penjara.
Kisah di Balik Jeruji Besi
Kondisi para tahanan yang dibebaskan memang terlihat memprihatinkan. Beberapa dari mereka tidak bisa berjalan tanpa dibantu kerabat. Ketika ditanya tentang perlakuan di penjara, seorang tahanan meminta maaf dan mengatakan tidak bisa menjawab karena takut akan menghadapi balasan dari otoritas Israel, ia hanya menyebutnya "mengerikan".
Seorang tahanan lain yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa dua tahun terakhir di penjara adalah "dua tahun terburuk dalam hidupnya" dan kondisinya "sangat, sangat, sangat sulit."
Sebelum pembebasan hari Senin, 11.056 warga Palestina ditahan di penjara-penjara Israel, menurut data NGO Israel HaMoked pada Oktober 2025. Setidaknya 3.500 di antaranya ditahan dalam penahanan administratif tanpa pengadilan.
Organisasi hak asasi manusia Israel, B'Tselem, menuduh bahwa warga Palestina menghadapi pelecehan dan perlakuan tidak manusiawi di penjara-penjara Israel "sebagai masalah kebijakan," termasuk penolakan perawatan medis dan makanan yang memadai.
Aktivis telah lama menyatakan bahwa pemenjaraan skala besar warga Palestina digunakan sebagai alat untuk menegakkan pendudukan Israel di wilayah Palestina.
Duka di Tengah Perayaan: Deportasi Mendadak
Di tengah suasana sukacita, terselip pula kesedihan. Beberapa keluarga yang telah diberitahu bahwa anggota keluarga mereka akan kembali dikejutkan karena nama mereka tidak ada di daftar bus. Dalam jam-jam menjelang pembebasan, dua daftar tahanan yang berbeda beredar; satu mencantumkan pembebasan kembali ke rumah, yang lain mencantumkan deportasi ke Gaza.
Bagi Umm Abed, kejutan pahit menantinya. Ia telah menunggu dua hari untuk pembebasan saudaranya, Kamal Imran. Kemungkinan deportasi Kamal ke Gaza membuatnya terkejut dan menangis. Jika dideportasi, hampir tidak ada cara baginya untuk bertemu kembali.
"Kami syok mendengar ini. Orang-orang Israel menyerbu rumah kami dan melarang kami mengadakan perayaan apa pun jadi dia seharusnya dibebaskan," kata Umm Abed dengan air mata di matanya, seperti dikutip dari lokasi di Ramallah oleh The Guardian.
Ketika bus terakhir tiba dan saudaranya tak kunjung muncul, ia menutup pipinya dan meratap. Wanita lain, saat disingkirkan oleh petugas polisi dari kerumunan, berteriak, "Mengapa mereka mendeportasinya?"
"Akan lebih mudah jika mereka memberi tahu kami sejak awal. Kami tidak tahu di mana dia. Mesir? Gaza? Kami hancur," ujar Raed Imran, saat memapah Umm Abed menjauh dari lokasi.










