TVRINews – Jawa Barat
Wastraprema Selami Karya Adi Luhung Batik Jawa Barat di Bandung-Garut; Ungkap Pesona Warna Berani dan Sejarah Abad ke-12
Himpunan Wastraprema (HWP) kembali menggulirkan program unggulannya, Wisata Wastra, kali ini dengan menelusuri kekayaan seni adi luhung batik Jawa Barat. Acara bincang-bincang dan kunjungan ke Bandung-Garut pada 29-30 Oktober 2025 ini berhasil mengungkap fakta mengejutkan mengenai sejarah dan karakter unik wastra dari Tanah Pasundan.
Kegiatan yang diikuti 35 peserta dari berbagai komunitas ini mengangkat tema "Kain dan Keindahan Wastra di Garut," menampilkan dua narasumber utama, yakni Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB), Dr. Komarudin Kudiya, dan Ketua Umum HWP, Sri Sintasari Iskandar, yang akrab disapa Neneng Iskandar.
Batik Jawa Barat: Lebih dari Sekadar Mega Mendung.
Menurut Neneng Iskandar, batik Jawa Barat memiliki keragaman motif yang khas, terinspirasi dari alam, budaya lokal, sejarah, serta memiliki makna filosofi mendalam. Warna-warni cerah dan dinamis menjadi ciri khas utama yang membedakannya.
“Kami menemukan bahwa masyarakat Priangan bahkan sudah mengenal ragam hias batik sejak abad ke-12, tidak terlepas dari pengaruh kerajaan di wilayah Sunda,” ujar Neneng Iskandar. Ia menambahkan, saat ini tercatat ada 27 kabupaten di Jawa Barat yang menghasilkan batik, mulai dari Cirebon dengan Mega Mendung, Indramayu (Dermayon) yang dipengaruhi Tiongkok, hingga Kuningan dengan motif kuda si windu.
Gumading Priangan: Sederhana Namun Penuh Makna Filosofis
Salah satu sorotan utama dalam bincang-bincang adalah pembahasan mengenai Batik Garutan atau "Gumading Priangan" yang dibawakan oleh Dr. Komarudin Kudiya. Ia menjelaskan bahwa batik Garutan adalah rumpun batik jelata yang akrab dengan keseharian rakyat, karakternya sederhana, adaptif, dan harmonis.
“Batik Garutan adalah cahaya dari Garut yang berkembang di lanskap Priangan. Garis-garis motifnya mungkin tidak sehalus batik Jawa lainnya, tetapi justru menarik lewat ritme geometrisnya,” jelas Dr. Komarudin.
Komarudin juga menyoroti ikon utama batik Garutan, yaitu motif Merak yang menari dengan ekor mengembang, seringkali dengan latar belakang gumading (krem kekuningan) yang melambangkan kegembiraan, martabat, dan harapan.
Sementara itu Ketua Umum HWP, Neneng Iskandar, menegaskan pentingnya edukasi ini:
"Karya adi luhung Jawa Barat ini sungguh tak kalah indahnya dengan wastra Nusantara lainnya. Tapi tahukah Anda, apa rahasia filosofi di balik warna-warna berani yang dipakai para pembatik Priangan? Jawabannya ada dalam sejarah sosial politik kita yang panjang. Ini bukan sekadar kain, ini adalah narasi perlawanan dan adaptasi."
Wisata Wastra HWP ini diharapkan dapat memberikan edukasi mendalam sekaligus memperkenalkan produk UMKM para perajin batik dan tenun Jawa Barat kepada khalayak yang lebih luas. Program ini juga disambut baik oleh Ketua Umum Yayasan Batik Jawa Barat, Sendy Yusuf, sebagai upaya menambah khazanah pengetahuan perbatikan di Indonesia.










