TVRINews, Badung
Setelah sempat mengalami perlambatan kunjungan pada periode Januari hingga Maret 2026, sektor pariwisata di Bali kini mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Memasuki April, geliat wisata kembali terasa seiring meningkatnya arus wisatawan mancanegara.
Di tengah situasi global yang belum stabil, khususnya akibat konflik di kawasan Timur Tengah, terjadi pergeseran preferensi destinasi wisata. Banyak wisatawan internasional mulai mengalihkan tujuan liburannya ke Bali yang dinilai lebih aman dan kondusif.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, dampak konflik tersebut terlihat dari turunnya jumlah wisatawan asal Timur Tengah. Pada Februari 2026, kunjungan dari kawasan tersebut tercatat merosot hingga 65,60 persen, menjadi salah satu penurunan paling signifikan berdasarkan wilayah asal wisatawan.
Meski demikian, secara keseluruhan performa pariwisata Bali tetap menunjukkan tren positif. Pergeseran arus wisatawan dari berbagai negara menjadi faktor penting yang menjaga stabilitas kunjungan. Bali masih dipandang sebagai destinasi yang menawarkan rasa aman, stabilitas, serta kenyamanan bagi wisatawan global.
Salah satu kawasan yang merasakan dampak pemulihan ini adalah Nusa Dua. Area yang dikenal dengan deretan hotel berbintang serta sistem keamanan terpadu ini kembali mencatat peningkatan okupansi hotel.
Pengelola kawasan hotel Nusa Dua, Made Agus Dwiatmika, menyebut tingkat hunian hotel saat ini telah mencapai rata-rata 70 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode libur Lebaran pada Maret lalu yang masih berada di kisaran 60 persen.
“Tren kunjungan mulai meningkat sejak awal April. Banyak wisatawan yang mengalihkan tujuan liburannya ke Bali karena faktor keamanan dan kenyamanan,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan adanya lonjakan wisatawan asal Australia. Pada April 2026, jumlah wisatawan dari negara tersebut diperkirakan mencapai sekitar 300 ribu orang, menjadikannya salah satu penyumbang terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Data BPS hingga Februari 2026 menunjukkan Australia masih menjadi kontributor utama wisatawan mancanegara ke Bali dengan total 99.521 kunjungan. Meski sempat turun 26,16 persen dibandingkan Januari, angka tersebut tetap mendominasi.
Di posisi berikutnya, wisatawan dari Tiongkok tercatat sebanyak 78.849 kunjungan, disusul India dengan 37.132 kunjungan. Ketiga negara ini berperan besar dalam menjaga stabilitas sektor pariwisata Bali di tengah fluktuasi global.
Pengamat pariwisata melihat fenomena ini sebagai bagian dari “tourism diversion effect”, yakni pergeseran destinasi wisata akibat faktor eksternal seperti konflik geopolitik maupun isu keamanan.
Dalam kondisi ini, Bali berada pada posisi yang diuntungkan berkat citranya sebagai destinasi aman, didukung infrastruktur yang matang serta pengalaman panjang dalam melayani wisatawan internasional.
Selain faktor keamanan, daya tarik Bali juga terletak pada keragaman pengalaman wisata yang ditawarkan. Mulai dari wisata budaya, keindahan alam, hingga tren wellness tourism yang semakin diminati wisatawan global.
Beberapa kawasan favorit seperti Ubud dan Sanur turut menjadi pilihan utama wisatawan yang mencari ketenangan dan kualitas pengalaman selama berlibur.
Pemerintah daerah bersama pelaku industri pariwisata terus memperkuat sinergi untuk menjaga momentum pemulihan ini. Berbagai langkah dilakukan, mulai dari peningkatan kualitas layanan, penguatan sistem keamanan, hingga strategi promosi internasional yang lebih terarah.
Dengan tren positif yang mulai terlihat pada April 2026, Bali diharapkan mampu mempertahankan pertumbuhan kunjungan wisatawan sepanjang tahun, sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi unggulan dunia di tengah dinamika global yang terus berkembang.










