TVRINews, Kabupaten Lombok Tengah
Padi varietas Gamagora 7 kini menjadi fokus utama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kelompok Tani Remaja Tani di Desa Pengembur, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, telah berhasil mengujicobakan varietas padi ini dengan harapan agar dapat dikembangkan secara luas di NTB.
Varietas padi Gamagora 7 dikenal karena adaptabilitasnya terhadap perubahan cuaca dan produktivitas yang tinggi. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Berry Arifsyah Harahap, menjelaskan bahwa pengenalan varietas ini bertujuan untuk meningkatkan produksi padi setiap musim tanam.
"Ini adalah salah satu langkah untuk memastikan petani tetap dapat menanam padi meskipun di musim panas atau kemarau. Dengan solusi ini, kami berharap harga beras dapat lebih stabil dan terjangkau," kata Berry Arifsyah Harahap, Senin, 12 Agustus 2024.
Dalam uji coba ini, padi Gamagora 7 ditanam pada musim kemarau tanpa mengandalkan hujan, melainkan hanya disiram dengan air dari sumur. Keberhasilan varietas ini terlihat dari waktu panen yang kurang dari 90 hari, sementara varietas padi lain biasanya memerlukan sekitar 100 hari.
“Kami berharap keberhasilan ini dapat diterapkan di seluruh Provinsi NTB. Selain membantu mengendalikan inflasi, padi Gamagora 7 diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani,” tambah Berry.
Asisten II Setda Lombok Tengah, Lendek Jayadi, menyambut baik hasil uji coba ini. Ia mengungkapkan bahwa varietas Gamagora 7 akan diterapkan di Kabupaten Lombok Tengah, yang memiliki kondisi tanah bervariasi, dari kering di selatan hingga dingin di utara.
"Kami percaya padi dengan kualitas premium ini bisa memenuhi kebutuhan konsumsi beras lokal, sehingga Lombok Tengah tidak perlu mengimpor beras dari luar daerah," ungkapnya.
Desa Pengembur menjadi lokasi percontohan penanaman padi Gamagora 7 di NTB. Varietas ini merupakan hasil pemuliaan dari Pusat Inovasi Agroteknologi Universitas Gadjah Mada (UGM).
Peneliti UGM, Taryono, menyatakan bahwa Gamagora 7 telah diuji coba di beberapa daerah seperti Jawa Timur dan Lampung dengan hasil yang sangat memuaskan, menghasilkan 8 hingga 10 ton gabah kering giling per hektar.
Beberapa kabupaten di Pulau Kalimantan juga telah menunjukkan minat untuk mengembangkan varietas ini.
“Penelitian Gamagora 7 dimulai pada tahun 2006 dan hasilnya diperoleh pada 2010. Proses pelepasannya melibatkan banyak penilaian untuk memastikan hasil yang optimal. Padi ini dikenal menghasilkan beras kelas premium dan tahan terhadap hama wereng, namun hanya cocok untuk lahan sawah irigasi dan sawah tadah hujan, tidak untuk lahan kebun atau ladang,” jelas Taryono.










