TVRINews Yogyakarta
Pemerintah Kota Yogyakarta menyambut baik penobatan Jalan Malioboro sebagai jalan paling ikonik se-Asia Tenggara versi Asia Stats Research. Di media sosial, kabar ini viral dan menuai banyak respons positif dari berbagai kalangan masyarakat, khususnya warga Yogyakarta.
Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Yogyakarta, Fitria Dyah Anggraini, menyebut penobatan ini sebagai berkah. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya tidak pernah mendaftarkan atau mengetahui kriteria maupun ukuran penilaian yang digunakan.
Menurutnya, kabar ini akan semakin memperkenalkan kawasan Malioboro kepada wisatawan, terutama dari mancanegara di kawasan Asia Tenggara, sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai destinasi unggulan di Indonesia maupun Asia Tenggara.
Pihak UPT juga menyebut kawasan Malioboro telah lama menyandang berbagai predikat, antara lain sebagai destinasi wisata paling populer di jantung Kota Yogyakarta, pusat ekonomi, serta kawasan bersejarah sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I hingga masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, termasuk dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.
Pada 2023, UNESCO menetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta—yang mencakup kawasan Malioboro—sebagai warisan budaya dunia. Sumbu ini membentang dari Tugu Golong-Gilig di sisi utara hingga Panggung Krapyak di selatan, yang melambangkan asal dan tujuan hidup manusia.
“Secara tata kota, secara filosofis, dan dalam berbagai aspek lainnya, Malioboro memang dirancang dengan penuh perhitungan oleh para pendiri dan pendahulu kita. Karena itu, penobatan sebagai jalan paling ikonik sangat masuk akal. Dari segi lanskap, Malioboro sangat menarik, dan latar belakang historis serta kulturalnya juga luar biasa,” ujar Fitria, Rabu, 15 April 2026.
Dalam catatan sejarah, Jalan Malioboro dibangun bersamaan dengan pendirian Keraton Yogyakarta sekitar tahun 1756. Pada masa awal, kawasan ini digunakan sebagai jalur seremonial untuk menyambut tamu kerajaan.
Pada masa kolonial Belanda, Malioboro berkembang menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan, dengan keberadaan sejumlah bangunan penting seperti Gedung Agung, Benteng Vredeburg, serta Kantor Pos Besar Yogyakarta.










