TVRINews, Banjarmasin
Kemarau panjang di Kalimantan Selatan mulai mengancam sektor pertanian. Petani di Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, kesulitan mendapatkan air untuk mengairi sawah, sementara mereka bersiap menghadapi musim tanam berikutnya.
Selain meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kemarau panjang menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah. Kondisi ini turut berdampak pada lahan pertanian, termasuk di kawasan pertanian Kertak Hanyar.
Saat ini, para petani memasuki masa panen sekaligus mempersiapkan lahan dan benih untuk musim tanam berikutnya. Namun, ketersediaan air menjadi kendala utama.
Salah seorang petani, Norifansyah, mengaku khawatir kondisi kemarau akan menyulitkan proses tanam berikutnya. Menurut dia, irigasi yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan air untuk sawah.
“Bisa kami pakai kalau fungsi irigasi di sanadibuka, kami manfaatkan untuk menahan dan mengairi area ini. Biasanya cuma bertahan sekitar 3–4 jam. Kalau tidak ada hujan, solusi terakhirnya air pasang akan dipompa ke sini,” ungkap Norifansyah pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Kondisi tersebut membuat petani harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan air, termasuk memanfaatkan air pasang yang dipompa ke area persawahan.
Para petani berharap pemerintah segera mencarikan solusi untuk mengatasi kekeringan dan memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian. Langkah tersebut dinilai penting agar produktivitas pertanian tetap terjaga di tengah kondisi cuaca ekstrem.










