TVRINews, Banjarmasin
Tradisi seni tutur bapandung mulai dikenalkan lebih luas kepada generasi muda melalui kegiatan di SMP Negeri 1 Banjarmasin. Sebanyak 17 pelajar mengikuti kompetisi bapandung dengan menampilkan gaya dan karakter masing-masing. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk mengenal seni tutur khas Banjar sekaligus melatih kemampuan menggunakan bahasa Banjar dalam pertunjukan monolog.
Para peserta tidak hanya dituntut menguasai lantunan dan cara penyampaian monolog berbahasa Banjar. Mereka juga harus mampu mengatasi rasa gugup saat tampil di hadapan dewan juri.
Salah satu peserta, Zaira Oktavia, mengaku baru pertama kali mengikuti pertunjukan bapandung. Meski waktu persiapannya singkat, ia merasa bangga dapat tampil sekaligus berkontribusi dalam pelestarian bahasa Banjar.
“Ini pertama kali saya ikut, jadi masih belum terlalu familiar. Tantangannya itu bagaimana membawakan unsur lucu yang khas dalam bapandung agar tidak terasa garing. Selain itu, saya juga harus memperhatikan perpindahan tokoh supaya tidak tertukar. Tapi saya puas dengan penampilan hari ini karena ini hasil kerja keras yang sudah saya lakukan,” ujar Zaira, Kamis, 13 Agustus 2026.
Menurut Zaira, salah satu tantangan dalam bapandung adalah membawakan unsur humor dan melakukan pergantian karakter agar tetap natural di hadapan penonton.
Koordinator Spensa Bapandung, Nurul Herliani, mengatakan kegiatan tersebut menjadi upaya menegaskan kembali pentingnya penggunaan bahasa Banjar sekaligus menghidupkan seni tutur bapandung yang mulai jarang dikenal masyarakat.
Sebelum festival dilaksanakan, sekolah menghadirkan narasumber untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai seni bapandung dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Pesertanya ada 17 orang. Ada yang sudah mengenal bapandung, tetapi ada juga yang belum tahu sama sekali. Karena itu, sebelum festival kami menghadirkan narasumber untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak tentang apa itu bapandung. Kegiatan ini bertujuan membangkitkan kembali budaya bapandung yang mulai jarang dikenal masyarakat Banjar. Di SMP Negeri 1 Banjarmasin sendiri, setiap hari Selasa menjadi hari khusus berbahasa Banjar sebagai bagian dari revitalisasi bahasa daerah. Mudah-mudahan melalui kegiatan ini para pelajar semakin mengenal bapandung dan terbiasa menggunakan bahasa Banjar di lingkungan mereka,” ujar Nurul.
Bapandung menjadi salah satu cara mendekatkan generasi muda dengan tradisi lisan Banjar. Melalui ruang kreatif seperti festival dan kompetisi di sekolah, seni tutur tersebut diharapkan tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.










