TVRINews, Bali
Masjid Agung Baitul Qodim di kawasan Loloan, Kabupaten Jembrana, menjadi salah satu saksi awal perkembangan Islam di Bali bagian barat. Masjid yang berdiri di tepi Sungai Ijo Gading ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang komunitas Muslim setempat.
Pewaris sejarah lokal, Haji Musaddad (66), menuturkan bahwa pemilihan lokasi masjid mengikuti tradisi komunitas Muslim perantau pada masa lalu.

“Ketika komunitas Muslim datang ke suatu wilayah, yang pertama dibangun adalah tempat ibadah dan makam. Itu menjadi fondasi awal permukiman,” kata Musaddad saat ditemui di kompleks makam Syarif Abdullah bin Yahya Al-Qadri, Bali, Selasa, 3 Maret 2026.
Di sekitar masjid, terdapat sejumlah makam tokoh penting yang berperan dalam membangun komunitas Loloan. Selain itu, masih tersimpan peninggalan bersejarah berupa Al-Qur’an tulisan tangan yang diperkirakan berusia hampir 200 tahun serta dokumen ikrar wakaf bertahun 1226 Hijriah.

Menurut Musaddad, dokumen wakaf tersebut menjadi bukti kesadaran administrasi keagamaan sejak masa awal.
“Ini mengajarkan bahwa tanah wakaf harus memiliki keterangan tertulis agar tidak dipersengketakan di kemudian hari,” jelasnya.
Tak jauh dari masjid, berdiri pula pesantren tertua di Bali yang didirikan pada 1935 dan masih aktif hingga kini. Keberadaan masjid dan lembaga pendidikan itu memperkuat peran Loloan sebagai pusat perkembangan Islam di Jembrana.
Bagi warga setempat, Masjid Agung Baitul Qodim bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol identitas, pendidikan, dan harmoni yang diwariskan lintas generasi.










