TVRINews, Sidoarjo
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut struktur beton besar di sisi kiri bangunan menjadi kendala utama dalam proses evakuasi korban robohnya Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur.
Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan, mengatakan beton tersebut menempel pada bangunan lain di sekitar lokasi, sehingga tidak bisa dipotong atau disingkirkan tanpa perhitungan matang.
"Ada satu kendala, yaitu beton besar yang menempel di bangunan sebelah kiri. Siang ini Pak Muji dari ITS akan datang memberikan pembimbingan agar pemotongan beton bisa dilakukan dengan aman tanpa menyebabkan gedung lain rusak atau runtuh," kata Budi dalam konferensi pers, Minggu 5 Oktober 2025, dikutip dari YouTube BNPB Indonesia.
Hingga Minggu 5 Oktober 2025, progres evakuasi dilaporkan telah mencapai sekitar 60 persen, dengan target seluruh area bisa rata dan tuntas pada Senin besok (6/10).
Dari hasil pencarian tim gabungan, total 36 korban meninggal dunia telah ditemukan, sementara 27 orang masih tertimbun di bawah reruntuhan.
Basarnas memastikan proses evakuasi terus dilakukan secara maksimal selama 24 jam penuh, dengan pembagian kerja tim dalam beberapa shift.
Lebih lanjut Direktur Operasi Basarnas Laksma TNI Yudhi Bramantyo, menjelaskan bahwa sebagian besar korban ditemukan di sektor A3 dan A4, tepatnya di lantai satu bangunan utama. Tim gabungan kini fokus membuka akses di bagian tengah dan kanan bangunan sebelum beralih ke sisi kiri yang masih berisiko tinggi.
"Kami tetap bekerja maksimal. Area sisi kiri masih kami tunda pembongkarannya karena perlu penanganan khusus dari tenaga ahli agar tidak menimbulkan keruntuhan tambahan," jelas Yudhi.










