TVRINews, Jakarta
Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menyatakan dukungan penuh terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Umum PBB ke-80 di New York pada 23 September 2025. Menurut Bamsoet, pidato itu mencerminkan tekad Indonesia untuk tidak hanya menjadi penonton di panggung global, melainkan ikut menentukan arah.
Bamsoet memuji keberanian dan ketegasan Prabowo, namun tetap menekankan bahwa pidato tersebut tidak berlebihan secara emosional.
“Beliau memperjuangkan solusi dua negara untuk Palestina, menawarkan kontribusi pasukan perdamaian, serta menyuarakan tantangan iklim dan pangan global ini bukan gesekan kosong, melainkan visi nyata,” ujarnya.
Menurut Bamsoet, Prabowo mengusung two?state solution sebagai satu-satunya jalan damai yang adil bagi Palestina dan Israel.
“Palestina berhak merdeka; Israel pun harus diakui dan keamanannya senantiasa dijamin,” tambahnya.
Bamsoet menilai Indonesia di posisi strategis untuk menjadi jembatan dialog antara dunia Arab, Barat, dan PBB. Selaku negara berpenduduk Muslim terbesar, Indonesia bisa memainkan peran penengah yang berimbang.
Tak hanya wacana, Prabowo juga menyampaikan kesiapan mengirim 20.000 pasukan perdamaian ke zona konflik Gaza?Israel. Bamsoet menilai angka tersebut sebagai bukti bahwa Indonesia siap ambil bagian signifikan dalam keamanan dunia. Jika terealisasi, Indonesia akan mencatat sejarah kontribusi besar terhadap operasi perdamaian PBB.
Selain itu, Bamsoet menyebut gagasan pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall) sebagai ide ambisius yang menunjukkan bahwa Indonesia ikut berpikir solusi adaptasi iklim. Ia mengaitkan urgensi gagasan tersebut dengan fakta penurunan tanah di pesisir utara Jakarta dan kenaikan permukaan laut.
“Jika dijalankan bersama mitigasi lokal seperti pengelolaan air tanah, restorasi mangrove, dan relokasi strategis ini bisa jadi landmark infrastruktu iklim global,” paparnya.
Di bidang pangan, Presiden Prabowo juga menyampaikan visi menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia. Bamsoet mengingatkan bahwa data BPS memproyeksikan produksi beras nasional tahun ini bisa menembus 31 juta ton, dengan cadangan pangan yang makin meningkat.
“Pidato Presiden di PBB adalah titik balik: Indonesia tidak hanya bersuara, tetapi menyodorkan solusi. Dari konflik di Gaza hingga ketahanan pangan dan adaptasi iklim, kita siap berpikir dan bertindak di level dunia,” tutup Bamsoet.










