TVRINews, Flores Timur
Memasuki hari keempat, Gunung Api Lewotobi Laki-Laki kembali mengalami dua kali erupsi. Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pada Selasa, 14 April 2026, erupsi pertama terjadi pukul 02.45 WITA.
Berdasarkan hasil pengamatan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) PVMBG di Desa Pululera, tinggi kolom abu teramati sekitar 500 meter di atas puncak, atau sekitar 2.084 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang dan condong ke arah barat daya hingga barat.

(Foto erupsi kedua, Selasa pagi)
Erupsi kedua terjadi pada pukul 05.22 WITA. Aktivitas ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 7,4 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 49 detik. Tinggi kolom abu kembali teramati sekitar 500 meter di atas puncak, dengan warna kelabu dan intensitas sedang, condong ke arah barat.
Secara keseluruhan, sejak 11 hingga 14 April 2026, aktivitas erupsi tercatat telah terjadi sebanyak lima kali. Erupsi awal terjadi pada Sabtu, 11 April 2026, pukul 11.15 WITA. Saat itu, tinggi kolom abu tidak teramati secara visual, namun aktivitas terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 7,4 milimeter dan durasi sekitar 2 menit 3 detik.
Selanjutnya, pada Minggu malam, 12 April 2026 pukul 19.58 WITA, erupsi kembali terjadi dengan kolom abu berwarna kelabu berintensitas tebal setinggi sekitar 500 meter di atas puncak atau 2.084 meter di atas permukaan laut. Aktivitas ini terekam dengan amplitudo maksimum 14,8 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 59 detik.
Kemudian pada Senin, 13 April 2026 pukul 08.24 WITA, kembali terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 1.884 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang, condong ke arah barat daya hingga barat. Aktivitas ini terekam dengan amplitudo maksimum 4,4 milimeter dan durasi sekitar 1 menit.
Meski aktivitas vulkanik masih berlangsung, PVMBG menetapkan status Gunung Api Lewotobi Laki-Laki berada pada Level II (Waspada). Masyarakat di sekitar gunung serta pengunjung atau wisatawan diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi.
Masyarakat juga diminta tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah daerah, serta tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya. Selain itu, warga diimbau mewaspadai potensi banjir lahar hujan pada sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote.
Bagi masyarakat yang terdampak hujan abu vulkanik, disarankan untuk menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut guna menghindari gangguan pada sistem pernapasan.










