TVRINews, Kabupaten Lombok Timur
Kenaikan harga sejumlah bahan pokok di pasar tradisional Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), terus bertahan sejak ramadan hingga akhir Maret 2026.
Kondisi tersebut memicu perubahan pola konsumsi masyarakat yang terpaksa mengurangi jumlah pembelian akibat beban harga yang semakin berat.
Salah seorang pedagang di Pasar Tradisional Pancor, Soraya mengungkapkan sejumlah komoditas yang masih mengalami kenaikan harga di antaranya minyak goreng kemasan, minyak goreng curah, gula pasir, daging sapi, dan daging ayam.
“Rata-rata kenaikan harga berkisar antara Rp2.000 hingga Rp5.000 per kilogram dari harga normal sebelum Ramadan. Pembeli sekarang terpaksa mengurangi jumlah belanja,” ujar Soraya, Selasa, 31 Maret 2026.
Ia menjelaskan, kenaikan harga yang terjadi sejak Ramadan belum menunjukkan penurunan signifikan meskipun Lebaran telah usai. Kondisi ini dinilai sebagai pola yang kerap terjadi saat momentum hari besar keagamaan akibat meningkatnya permintaan.
Dampaknya, kata Soraya, konsumen mulai menyesuaikan kebutuhan. Jika sebelumnya membeli hingga lima kilogram, kini banyak yang hanya membeli sekitar tiga kilogram.
Penurunan volume pembelian tersebut turut dirasakan pedagang melalui menurunnya omzet harian, terutama pada komoditas bahan pokok yang mudah rusak seperti hasil pertanian.
Soraya menambahkan, sebagian besar pedagang kini mengurangi jumlah stok, khususnya untuk komoditas segar. Mereka lebih memilih menyediakan barang kebutuhan pokok produksi pabrikan yang memiliki masa simpan lebih lama.
“Pedagang sekarang lebih banyak menyimpan barang seperti mie instan, minyak goreng kemasan, dan bahan makanan kering lainnya untuk menghindari kerugian karena barang tidak laku,” katanya.
Para pedagang berharap pemerintah daerah dapat melakukan langkah stabilisasi harga serta memastikan distribusi bahan pokok tetap lancar.
Kendati demikian, daya beli masyarakat diharapkan dapat kembali meningkat dan aktivitas perdagangan di pasar tradisional kembali normal.










