TVRINews, Yogyakarta
Arsitektur tiga tingkat dan filosofi tasawuf menyatu dalam warisan sejarah Pathok Negara.
Bangunan Makam Kiai Nur Iman atau Bendoro Pangeran Hangabehi Sandiyo di kawasan Masjid Pathok Negara Mlangi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, merupakan warisan sejarah Islam Jawa yang menyatukan nilai spiritualitas, arsitektur tradisional, dan filosofi tasawuf.
Dewan Masjid Pathok Negara Mlangi, Kiai Ihsanudin menjelaskan bahwa makam tersebut berada di rumah tinggal pribadi Kiai Nur Iman semasa hidup, yang kemudian difungsikan sebagai tempat peristirahatan terakhir beliau bersama keluarga dan kerabat.
Rumah Tinggal yang Menjadi Kompleks Makam
Menurut Kiai Ihsanudin, bangunan makam Kiai Nur Iman tidak dibangun sejak awal sebagai makam, melainkan merupakan rumah tinggal pribadi yang kemudian dialihfungsikan menjadi kompleks pemakaman keluarga.
“Yang dimakamkan di sini adalah Kiai Nur Iman atau BPH Sandiyo. Beliau dimakamkan di rumah tinggal beliau sendiri, yang dulu menjadi tempat tinggal bersama istri dan para kerabat,” jelas Kiai Ihsanudin kepada TVRINews.com, Jumat, 30 Januari 2026.
Di bagian depan bangunan makam, kata Kiai Ihsanudin, juga terdapat makam putra pertama Kiai Nur Iman, yakni Kiai Mursodo, yang dahulu memegang amanah Masjid Pathok Negara Ploso Kuning.
Struktur Bangunan Tiga Tingkat Sarat Makna
Bangunan makam Kiai Nur Iman memiliki struktur atap tiga tingkat yang menjadi ciri khas arsitekturnya. Struktur ini tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga sarat makna simbolik.
Kiai Ihsanudin mengatakan tiga tingkat atap tersebut melambangkan tahapan perjalanan spiritual manusia, yaitu: Syariat, Tarekat/Tasawuf dan Hakikat.
"Sementara bagian puncak bangunan melambangkan makrifat, yaitu puncak kesadaran spiritual dalam mengenal Allah SWT," ujarnya.
Ornamen Tradisional dan Filosofi Keutamaan Akhlak
Pada bagian puncak bangunan terdapat ornamen daun kluwih dan bunga jambu. Ornamen ini dimaknai sebagai simbol “linuwih” atau keutamaan spiritual.
Maknanya, kata Kiai Ihsanudin, seseorang yang menempuh jalan syariat, memperhalus diri dengan tasawuf, dan mencapai hakikat akan menjadi pribadi yang berakhlak utama, membawa manfaat, serta memberi “keharuman” bagi lingkungan sosialnya.
Material Kayu Jati sebagai Simbol Kesejatian
Bangunan makam juga didominasi oleh penggunaan kayu jati. Secara filosofis, kata “jati” dimaknai sebagai sejati atau hakikat.
Penggunaan kayu jati melambangkan pencarian manusia terhadap kesejatian hidup, di tengah dunia yang penuh dengan hal-hal semu.
“Filosofi sejati itu dalam bahasa arabnya hakikat kita tujuannya adalah kesejatian,” terang Kiai Ihsanudin.
Perpaduan Arsitektur Jawa dan Spiritualitas Islam
Secara historis, bangunan Makam Kiai Nur Iman mencerminkan perpaduan antara arsitektur tradisional Jawa, nilai tasawuf Islam, filosofi budaya lokal, dan tradisi pesantren.
Perpaduan ini menjadikan bangunan makam bukan sekadar situs ziarah, tetapi juga sebagai monumen peradaban Islam Jawa yang merekam proses integrasi agama dan budaya.
Bangunan Makam sebagai Warisan Sejarah Mlangi
Hingga kini, bangunan Makam Kiai Nur Iman tetap terjaga dan menjadi bagian penting dari identitas kawasan Mlangi sebagai wilayah religius dan pesantren.
Keberadaannya tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga nilai historis dan arsitektural, menjadikannya sebagai warisan sejarah keislaman Nusantara yang bernilai tinggi.










