TVRINews, Denpasar
Gelaran Piala Dunia FIFA 2026 diperkirakan tidak hanya menjadi ajang olahraga terbesar yang menyedot perhatian masyarakat dunia, tetapi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi hingga ke tingkat daerah. Di Bali, kegiatan nonton bareng (nobar) pertandingan sepak bola diprediksi menjadi salah satu pemicu meningkatnya perputaran ekonomi, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sektor kuliner, serta ekonomi kreatif.
Ketua Komisi III DPRD Bali, I Nyoman Suyasa, menilai antusiasme masyarakat terhadap ajang yang berlangsung pada 11 Juni hingga 20 Juli 2026 itu perlu dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk menggerakkan ekonomi lokal. Menurutnya, kegiatan nobar memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap berbagai sektor usaha.
“Momentum ini harus ditangkap sebagai peluang emas oleh pelaku usaha lokal. Saat masyarakat berkumpul untuk menyaksikan pertandingan, kebutuhan makanan, minuman, hingga produk pendukung lainnya juga akan meningkat,” ujar Suyasa.
Ia menjelaskan, dampak ekonomi diperkirakan paling terasa pada sektor informal seperti warung makan, kafe, kedai kopi, rumah makan, hingga pelaku usaha merchandise dan atribut olahraga. Sejumlah pelaku usaha bahkan mulai menyiapkan promosi khusus untuk menyambut momentum tersebut.
Fenomena serupa juga kerap terjadi pada ajang olahraga internasional sebelumnya, di mana peningkatan konsumsi masyarakat mampu mendorong pendapatan pelaku usaha lokal. Di Bali yang memiliki basis ekonomi kuat pada sektor pariwisata dan jasa, nobar dinilai dapat menjadi ruang interaksi sosial sekaligus penggerak transaksi ekonomi di tingkat komunitas.
DPRD Bali mendorong pemerintah daerah, pengelola ruang publik, desa adat, pelaku industri pariwisata, dan komunitas masyarakat untuk memfasilitasi kegiatan nobar secara terbuka dan tertib. Ketersediaan ruang publik yang memadai dinilai penting agar masyarakat dapat menikmati pertandingan bersama dengan aman, sekaligus memberi ruang bagi pelaku usaha untuk berpartisipasi.
Selain dampak ekonomi, kegiatan nobar juga dinilai dapat memperkuat interaksi sosial masyarakat lintas usia, profesi, dan latar belakang. Namun demikian, DPRD Bali mengingatkan pentingnya pengelolaan keamanan dan ketertiban dalam setiap pelaksanaan kegiatan.
Penyelenggara diminta memperhatikan kapasitas lokasi, pengaturan lalu lintas, kebersihan, serta potensi gangguan keamanan akibat keramaian massa. Sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, pelaku usaha, dan masyarakat dinilai menjadi kunci terciptanya situasi yang kondusif.
Selain sektor kuliner, peluang ekonomi juga terbuka pada penjualan atribut sepak bola seperti jersey, syal, bendera, hingga produk kreatif bertema Piala Dunia. UMKM diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan daya saing produk lokal.
Dengan pengelolaan yang baik, DPRD Bali berharap Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi tontonan global, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di Bali.










