TVRINews, Sabu Raijua
Petani garam di Desa Bodae, Kecamatan Sabu Timur, Kabupaten Sabu Raijua, kembali menikmati hasil panen melimpah. Selama satu bulan terakhir, produksi garam dari lahan garam rakyat mencapai 324 ton. Hasil ini menjadi kabar menggembirakan, tidak hanya bagi petani, tapi juga bagi perekonomian daerah.
Mikhael Lado, pemilik lahan sekaligus koordinator lapangan di PT. Nataga Raihawu Industri di Desa Bodae, mengungkapkan bahwa produksi garam tahun ini cukup stabil.
Dari total luas lahan 28 hektar yang ia kelola, panen dapat dilakukan hingga empat kali dalam sebulan berkat cuaca yang mendukung dan sistem kerja yang efisien.
“Cuaca panas yang terjadi mulai beberapa bulan lalu, kami mulai olah dan ini air di tambak yang sudah ada dan pada bulan lalu kami berhasil panen 324 ton dan kirim ke Surabaya,” ujar Mikhael Lado saat ditemui tim tvrinews.com di lokasi tambak garam, Selasa, 22 Juli 2025.
Garam-garam ini, lanjut Mikhael, dijemur secara tradisional dan memiliki kualitas tinggi karena kandungan mineral alaminya yang cukup kuat. Hal ini dapat dilihat dari garam yang dipanen berbentuk kristal mulai dari ukuran kecil hingga besar.
“Proses produksi garam ini mulai dari proses isi tambak sampai panen memberikan dampak sosial yang besar bagi warga setempat, ada 140 pekerja lokal terlibat langsung dalam proses produksi, mulai dari pengolahan lahan, penjemuran, pengemasan hingga pengangkutan semuanya dilakukan oleh warga sekitar yang terlibat sebagai pekerja semuanya berasal dari berbagai dusun di sekitar Desa Bodae,” katanya.
Garam hasil panen dari Desa Bodae sebagian besar tidak hanya dipasarkan di NTT dan wilayah Sabu Raijua tetapi juga dikirim ke luar daerah bahkan permintaan dari luar pulau mulai meningkat karena kualitas garam yang terjaga.
“Karena garamnya bagus banyak pembeli dari luar yang datang untuk beli baik dalam jumlah kecil maupun jumlah besar dan ini sangat membantu ekonomi kami sebagai petani garam yang dulunya hanya bisa mencari rezeki dengan melaut tetapi sekarang kami sudah bisa menyekolahkan anak hingga ke SMA bahkan lebih tinggi,” jelas Mikhael.
Keberhasilan panen garam ini menjadi bukti bahwa sektor pertanian non-pangan seperti garam tetap memiliki peluang ekonomi yang menjanjikan jika dikelola dengan baik. Cuaca cerah, kekompakan petani, dan pola kerja yang teratur menjadi kunci utama keberhasilan panen tahun ini.
Dengan hasil panen yang terus meningkat dan keterlibatan masyarakat yang tinggi, Desa Bodae semakin menunjukkan diri sebagai sentra produksi garam rakyat yang potensial di wilayah Sabu Raijua.
Pemerintah daerah pun diharapkan terus memberikan dukungan agar usaha rakyat seperti ini bisa tumbuh berkelanjutan.










