TVRINews, Subang
Musim kemarau yang berkepanjangan mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Krisis air yang melanda sejumlah wilayah memaksa petani mencari berbagai cara agar tanaman padi tetap bertahan dan terhindar dari ancaman gagal panen.
Di Desa Tanjungrasa Kaler dan Desa Tanjungrasa Kidul, Kecamatan Patokbeusi, ratusan hektare lahan persawahan terancam mengering setelah pasokan air irigasi berhenti mengalir selama beberapa pekan terakhir.
Demi menyelamatkan tanaman padi, para petani terpaksa memanfaatkan air dari Sungai Cilamaya yang diduga telah tercemar limbah. Air yang digunakan tampak berwarna hitam pekat, namun tetap menjadi pilihan karena merupakan satu-satunya sumber air yang masih tersedia di tengah musim kemarau.
Meski menyadari kualitas air tersebut tidak layak, para petani mengaku tidak memiliki alternatif lain. Sebelum dialirkan ke tanaman, air terlebih dahulu ditampung di petakan sawah agar lumpur dan endapan kotoran mengendap sehingga diharapkan dapat mengurangi dampak terhadap tanaman.
Salah seorang petani, Memed, mengatakan penggunaan air yang diduga tercemar limbah itu telah dilakukan selama hampir dua pekan sebagai upaya mempertahankan tanaman padi tetap hidup.
“Kami sebenarnya khawatir menggunakan air ini karena warnanya hitam dan diduga tercemar limbah. Tapi kalau tidak dipakai, sawah akan kering dan padi bisa mati. Tidak ada pilihan lain selain memanfaatkan air yang masih tersedia,” ujar Memed.
Menurutnya, kondisi tersebut menempatkan petani dalam situasi yang sulit. Di satu sisi mereka harus menyelamatkan tanaman dari kekeringan, namun di sisi lain mereka khawatir kualitas air yang digunakan dapat memengaruhi hasil panen dan kesuburan lahan.
Memed berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi krisis air, memperbaiki pasokan irigasi, serta menindaklanjuti dugaan pencemaran Sungai Cilamaya.
“Kami berharap pemerintah segera memberikan solusi agar petani tidak mengalami gagal panen karena kekurangan air. Selain itu, kualitas air untuk irigasi juga harus dipastikan aman bagi tanaman,” katanya.
Musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan debit air di sejumlah saluran irigasi menurun drastis. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas pertanian yang masih bergantung pada pasokan air dari sungai dan jaringan irigasi.
Para petani berharap pemerintah segera melakukan penanganan menyeluruh, baik melalui penyediaan sumber air alternatif selama musim kemarau maupun pengawasan terhadap kualitas air irigasi. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mencegah kerugian akibat ancaman gagal panen.









