
Penulis: suharli
TVRINews, Bangka Belitung
Menyambut Hari Raya Idulfitri, kue tradisional rintak tetap menjadi primadona masyarakat di Pulau Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kue ini tidak hanya hadir sebagai hidangan, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi kuliner turun-temurun yang selalu menghiasi meja saat momen kemenangan.
Memasuki penghujung Ramadan, permintaan kue rintak mengalami lonjakan signifikan. Tren ini diikuti oleh meningkatnya pesanan dari masyarakat yang mulai mempersiapkan kebutuhan hari raya.
Pemilik usaha kue rintak di Desa Baru, Kecamatan Manggar, Agustryanti, mengatakan pesanan terus mengalir sejak awal bulan puasa. Untuk memenuhi permintaan, dapurnya harus bekerja ekstra hingga tujuh putaran produksi.

“Selama periode Ramadan tahun ini saja, tempat usahanya telah melakukan proses pembuatan kue rintak hingga tujuh kali putaran demi memastikan seluruh permintaan dari pasar dapat terpenuhi secara maksimal.,” kata Agustryanti, Kamis, 12 Maret 2026.
Agustryanti menambahkan, tingginya volume produksi tersebut secara otomatis berdampak pada lonjakan kebutuhan bahan baku
"Selama masa produksi yang padat ini, usahanya telah menghabiskan hampir satu ton bahan baku yang meliputi campuran tepung, telur, gula, serta berbagai bahan penunjang lainnya.
Meski usaha tersebut juga memproduksi kue tradisional lain seperti kue semprit dan kue cokelat, kue rintak tetap menjadi produk andalan dan paling diminati pembeli.
Lonjakan permintaan ini juga membawa berkah bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pembuat kue tradisional, yang dapat memanfaatkan momentum Ramadan dan Idulfitri untuk meningkatkan penjualan sekaligus memperkenalkan kue khas Belitung ke masyarakat lebih luas.
Editor: Redaksi TVRINews
