TVRINews, Jatim
Sebanyak 300 narapidana di Lapas Kelas 2B Tuban mengikuti skrining HIV/AIDS sebagai langkah awal deteksi penyakit menular di lingkungan lapas. Kegiatan ini digelar di halaman lapas Jalan Veteran, Kelurahan Kutorejo, Kabupaten Tuban.
Satu per satu narapidana diperiksa oleh petugas medis, mulai dari pendataan hingga pengambilan sampel darah. Dari total 421 narapidana yang tengah menjalani pembinaan, 300 di antaranya ikut serta dalam skrining.
Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban dan Lapas Kelas 2B Tuban. Tujuannya untuk mengetahui secara dini apakah ada narapidana yang terinfeksi HIV/AIDS, agar bisa segera mendapat perawatan dan pengobatan secara rutin.
Kepala Lapas Kelas 2B Tuban, Irwanto Dwi Yhana Putra, menyambut baik pelaksanaan skrining tersebut. Ia menilai kegiatan ini sangat penting untuk mendeteksi dini penyakit menular serta memberikan edukasi bagi warga binaan.
“Saya sangat berterima kasih dan benar-benar menghargai terselenggaranya kegiatan ini. Upaya ini sangat penting untuk mendeteksi secara dini penyakit menular di kalangan warga binaan. Jika nantinya ada yang terindikasi terinfeksi berdasarkan hasil pemeriksaan, tim medis akan segera mengambil langkah-langkah pengobatan yang diperlukan,” ujar Irwanto, dikutip Kamis, 15 Mei 2025.
Skrining dilakukan dalam dua tahap selama dua hari. Hingga hari pertama, dari 150 narapidana yang telah diperiksa, satu orang dinyatakan positif mengidap HIV/AIDS.
Renaldy Caesar, Kepala Subsie Perawatan Lapas Kelas 2B Tuban, menegaskan bahwa narapidana yang terdeteksi langsung ditangani oleh tim medis.
“Kami sangat berharap, lewat skrining ini, kita bisa mengetahui lebih awal kondisi kesehatan para warga binaan. Dengan begitu, kalau ada yang terdeteksi TB, penanganannya bisa dilakukan secepat mungkin dan untuk satu orang yang terkena HIV, sudah ditangani dan dalam proses pengobatan oleh tim perawat,” ujar Renaldy.
Selain pengobatan rutin, narapidana yang positif HIV/AIDS juga akan mendapat pembinaan berupa edukasi tentang pengelolaan penyakit dan pencegahan penularan. Edukasi ini diberikan bersama dinas kesehatan dan tenaga medis profesional.
Langkah ini diharapkan dapat menekan penyebaran penyakit di dalam lapas sekaligus meningkatkan kesadaran kesehatan bagi seluruh warga binaan.
Baca Juga: Jamaah Haji Asal Gorontalo Meninggal Dunia Menjelang Keberangkatan ke Tanah Suci










