TVRINews, Belitung
Fenomena haze atau udara kabur menyelimuti wilayah Pulau Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kondisi tersebut menyebabkan jarak pandang menurun drastis dan sempat berdampak pada operasional penerbangan di Bandara H.AS Hanandjoeddin, Tanjungpandan.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena udara kabur tersebut terjadi di wilayah Tanjungpandan dan sekitarnya. Kondisi ini berlangsung sekitar 30 menit hingga satu jam akibat partikel-partikel kering yang melayang di atmosfer, didukung cuaca panas dan minimnya hembusan angin.
Ilham Syarief Putra menjelaskan, fenomena yang terjadi pada Kamis pagi tersebut teridentifikasi sebagai haze berdasarkan hasil pemantauan BMKG.

“Untuk fenomena yang terjadi tadi pagi di wilayah Belitung, terutama di Tanjungpandan, seputar Tanjungpandan itu adalah dari pantauan BMKG haze. Haze itu adalah udara kotor yang terperangkap karena kelembaban yang cukup tinggi. Kenapa kita bilang haze, karena kelembabannya yang memang tinggi dibanding dengan sebelumnya,” ujar Ilham Syarief Putra.
Selain kondisi atmosfer, keberadaan sejumlah titik panas (hotspot) yang terdeteksi di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur juga menjadi perhatian. Titik panas tersebut terpantau di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Membalong, Badau, Sijuk, Simpang Pesak, dan Simpang Renggiang.
Penurunan jarak pandang akibat fenomena haze sempat memengaruhi kelancaran operasional penerbangan di Bandara H.AS Hanandjoeddin. Salah satu pesawat yang melayani rute Jakarta–Tanjungpandan terpaksa melakukan prosedur holding atau berputar di udara untuk menunggu kondisi memungkinkan sebelum mendarat.
Namun, gangguan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah jarak pandang di sekitar bandara kembali membaik dan memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan, pesawat akhirnya dapat mendarat dan operasional bandara kembali berjalan normal.
“Begitu lama, mereka pesawatnya bisa langsung landing dan bandara beroperasi dengan normal karena visibilitas sudah membaik di atas 2 kilometer,” kata Ilham.
Di tengah kondisi cuaca yang masih relatif panas dan keberadaan titik panas di sejumlah wilayah, fenomena haze diperkirakan masih berpotensi kembali terjadi dalam waktu dekat, termasuk pada Jumat (23/10/2026), dengan durasi yang relatif singkat.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap penurunan kualitas udara dan berkurangnya jarak pandang. Warga juga disarankan menyesuaikan aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara kabur kembali terjadi, serta mengikuti informasi cuaca terbaru dari BMKG.










