TVRINews, Yogyakarta
Sejumlah petani bawang merah di Kalurahan Karangrejek, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai melakukan panen pada musim penghujan. Namun, hasil panen tahun ini mengalami penurunan akibat kondisi cuaca yang tidak menentu.
Mahesa, salah satu petani muda, mengaku hasil panen pada musim tanam kedua tidak maksimal karena serangan berbagai jenis hama.
Ia menyebut, hasil panen kali ini lebih rendah dibandingkan panen pertama pada awal musim hujan sebelumnya. Faktor cuaca diduga menjadi penyebab utama turunnya produktivitas tanaman bawang merah.
Kondisi cuaca yang berubah-ubah, dengan hujan pada malam hari dan panas terik pada siang hari, memicu munculnya hama seperti jamur, ulat, dan serangga pengganggu sejak fase awal pertumbuhan hingga masa panen.
Dari hasil panen yang dilakukan, petani hanya memperoleh sekitar empat hingga lima kuintal bawang merah. Jumlah tersebut menurun dibandingkan panen sebelumnya yang bisa mencapai tujuh kuintal.
Selain menurunkan produksi, gangguan tersebut juga menyebabkan ukuran umbi bawang merah menjadi lebih kecil dan tidak berkembang optimal.
Meski demikian, para petani tetap bersyukur karena tidak terjadi gagal panen total. Sebagian petani memilih tidak menjual hasil panen dengan sistem tebas, melainkan mengeringkan dan menjual secara mandiri karena harga tebasan dinilai menurun akibat kualitas panen yang berkurang.
Mahesa mengatakan, perubahan cuaca sangat memengaruhi kualitas hasil panen bawang merah.
“Petani bawang merah saat ini dengan kondisi cuaca yang berubah-ubah ini hasilnya kurang maksimal. Hujan dan panas yang tidak menentu membuat bawangnya tidak tumbuh dengan baik,” ujar Mahesa, Kamis (7/5/2026).
Ia menambahkan, meski sudah dilakukan penyemprotan dan pemberian obat hama, hasil panen tetap belum optimal.
Sementara itu, harga bawang merah di tingkat petani masih relatif stabil. Bawang merah ukuran sedang masih dapat dijual dengan harga sekitar Rp23 ribu per kilogram atau lebih.










